Daerah  

Soal Ekskavator di Tengah Krisis Pengungsi, Ini Jawaban Bupati Anton Doni Dihen

Avatar photo
Reporter : Ivan Wuran
IMG 20260904 020624
Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen//dok. Instagram ADD Official

Ia membandingkan besaran yang disebutnya berasal dari pemerintah pusat sebesar Rp15.000 per jiwa per hari, sedangkan skema yang disiapkan pemerintah daerah sebesar Rp8.500 per jiwa per hari.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi jawaban Bupati terhadap sorotan publik mengenai bagaimana Pemda Flotim menentukan skala prioritas anggaran di tengah situasi pascabencana erupsi Lewotobi.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Di satu sisi, pemerintah daerah dituntut memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi. Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi persoalan akses dan infrastruktur yang dapat semakin berat ketika memasuki musim hujan.

Baca Juga :  Prakiraan  BMKG Cuaca Ekstrem di NTT dan Daftar Wilayah yang Harus Waspada

Bagi Anton Doni Dihen, dua persoalan tersebut tidak harus ditempatkan sebagai pilihan yang saling meniadakan. Jaminan hidup menyentuh kebutuhan warga hari ini, sementara ekskavator disiapkan agar akses warga tidak lumpuh ketika bencana hidrometeorologi datang.

“Ekskavator harus standby,” tegasnya.

Konteks Anggaran dan Derita Pengungsi

Rencana pengadaan ekskavator menjadi sorotan karena muncul ketika sebagian warga terdampak erupsi Lewotobi masih membutuhkan perhatian dan dukungan pemerintah.

Baca Juga :  DPRD NTT Desak Politeknik Negeri Kupang Selesaikan Masalah Ijazah

Kritik publik pada dasarnya mempertanyakan skala prioritas belanja daerah: apakah pengadaan alat berat harus didahulukan ketika kebutuhan pengungsi masih besar.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung