Opini  

Kisah Raka Menemukan Kekuatan Komunikasi Asertif

Avatar photo
e09fa703 5593 4f32 a72d f26e9888740e 1

KR – Pagi itu, suasana kantor terasa tegang. Rapat mingguan baru saja dimulai, tapi anehnya semua orang diam. Tidak ada yang berani bicara.

Raka, seorang staf baru, hanya menatap layar laptopnya. Dalam hati ia berpikir, “Harusnya ideku ini disampaikan… tapi nanti kalau salah gimana?”

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Di ujung meja, Bima—atasannya—mulai kesal. Ia akhirnya memecah keheningan.

“Kenapa semuanya diam? Kalian ini kerja atau cuma duduk saja?” katanya dengan nada tinggi.

Beberapa orang langsung menunduk. Tidak ada yang menjawab.

Baca Juga :  14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

Di sisi lain, Sinta hanya tersenyum kecil, tapi matanya terlihat tidak nyaman. Ketika ditanya pendapatnya, ia menjawab pelan,
“Iya, Pak… terserah saja…”

Namun setelah rapat, Sinta mengeluh ke temannya.
“Sebenernya aku nggak setuju sama keputusan tadi, tapi ya sudahlah…”

Hari itu, rapat selesai tanpa hasil jelas. Semua orang punya pikiran masing-masing, tapi tidak ada yang benar-benar disampaikan.


Siang harinya, Raka duduk sendiri di kantin. Ia mulai sadar sesuatu.
“Kenapa sih tadi nggak ada yang ngomong jujur? Padahal jelas banyak yang nggak setuju…” gumamnya.

Baca Juga :  Rahasia Sukses Finansial Tapi 92% Bisa Jadi Miskin Karena Kebiasaan Ini

Tiba-tiba, seniornya, Andi, duduk di depannya.
“Kamu kelihatan kepikiran, Rak,” katanya santai.

Raka menghela napas.
“Iya, Bang… tadi rapat aneh banget. Semua diam, terus Pak Bima malah marah.”

Andi tersenyum tipis.
“Itu karena satu hal sederhana… orang nggak bisa baca pikiran kamu.”

Raka terdiam.
“Maksudnya?”

Andi menatapnya serius.
“Kalau kamu punya ide, ya ngomong. Kalau nggak setuju, ya sampaikan. Jangan berharap orang lain ngerti sendiri.”

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung