Daerah  

Flores, Ketika Bumi Menangis: Diantara Puing, Abu Lewotobi, dan Doa Yang Tak Pernah Selesai

Avatar photo
Reporter : Ivan Wuran
IMG 20260907 132753
Gunung Lewotobi adalah gunung berapi kembar terletak di bagian tenggara pulau Flores. Gunung Lewotobi tersusun dari gunung Lewotobi laki-laki dan Gunung Lewotobi perempuan. dok.instagram @simon_nanny

FEATURE | KABARTIMOR.COM

Ada tempat di Indonesia yang tanahnya begitu indah, tetapi menyimpan cerita tentang kehilangan yang begitu dalam. Namanya Flores.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Di sana, laut membiru seperti doa yang tak bertepi. Bukit-bukit berdiri seperti penjaga. Kebun-kebun menghijau ketika musim hujan datang. Rumah-rumah kecil berdiri di antara pepohonan, tempat ibu-ibu menanak nasi dan anak-anak berlari mengejar matahari.

Tetapi pada suatu pagi, tanah itu berguncang.
Bukan sekali. Bukan dua kali. Ia mengguncang rumah, gereja, sekolah, jalan, ladang, dan terutama hati manusia.

Baca Juga :  Generasi Muda UMK Gelar Aksi Hijau untuk Laut Biru

Ketika Tanah Kehilangan Kesabaran
Pada 15 Agustus 2026, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores.

Dalam hitungan detik, tempat yang selama bertahun-tahun disebut rumah berubah menjadi tempat yang menakutkan untuk ditinggali.
Orang-orang berlari keluar dengan pakaian seadanya.
Ada ibu yang menggandeng anaknya.
Ada ayah yang kembali masuk ke rumah untuk mengambil ibunya yang sudah tua.

Baca Juga :  Maxim Perluas Jaringan di NTT, Kini Hadir di Borong dan Nubatukan

Ada anak kecil yang menangis karena belum mengerti mengapa bumi tiba-tiba seperti kehilangan kesabaran.
Dan ada mereka yang tidak pernah sempat berlari. Mereka tinggal sebagai nama dalam daftar orang yang telah pergi.

Data kemudian mencatat angka yang terasa begitu dingin dibandingkan air mata manusia: korban meninggal mencapai 111 orang, sementara 88.161 warga masih mengungsi hingga 31 Agustus 2026.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung