Daerah  

Flores, Ketika Bumi Menangis: Diantara Puing, Abu Lewotobi, dan Doa Yang Tak Pernah Selesai

Avatar photo
Reporter : Ivan Wuran
IMG 20260907 132753
Gunung Lewotobi adalah gunung berapi kembar terletak di bagian tenggara pulau Flores. Gunung Lewotobi tersusun dari gunung Lewotobi laki-laki dan Gunung Lewotobi perempuan. dok.instagram @simon_nanny

Data rehabilitasi Flores Timur pada Juli 2026 menyebut 2.310 KK masih masuk dalam skema pengungsian, dengan 2.072 orang tinggal di hunian sementara.

Bayangkan.
Dua bencana.
Dua ketakutan.
Dan manusia yang sama.
Mereka yang sebelumnya sudah kehilangan rumah karena Lewotobi, kemudian harus merasakan bumi kembali berguncang akibat gempa.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Di tenda, Duka Ternyata Tidak Mengenal Batas
Ada sesuatu yang mungkin lebih menyakitkan daripada kehilangan rumah. Yaitu kehilangan rasa aman.

Baca Juga :  Wali Kota Kupang: Kelola Air Adalah Cara Kita Jaga Peradaban

Sebab rumah bukan sekadar dinding. Rumah adalah tempat seorang anak merasa ayahnya akan selalu ada. Rumah adalah tempat seorang ibu menyimpan piring. Rumah adalah tempat keluarga berkumpul ketika hujan turun.

Ketika rumah hilang, manusia bukan hanya kehilangan bangunan. Ia kehilangan sebuah bagian dari dirinya.
Namun Flores memiliki sesuatu yang tidak mudah dihancurkan oleh gempa maupun gunung api: persaudaraan

Baca Juga :  Gempa M7,7 Guncang NTT, 38 Orang Meninggal dan Ribuan Warga Mengungsi

Menariknya, ketika korban gempa di Nagekeo membutuhkan bantuan, penyintas Lewotobi justru datang membantu. Mereka datang dari hunian sementara. Mereka yang sendiri sedang berjuang. Mereka membawa sembako, pakaian, pisang, ubi dan sayuran.

Tiga belas penyintas Lewotobi menempuh sekitar 344 kilometer menuju Nagekeo* untuk mengantarkan bantuan kepada sesama korban bencana. Mereka bahkan tiba ketika Lewotobi kembali meletus.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung