Data rehabilitasi Flores Timur pada Juli 2026 menyebut 2.310 KK masih masuk dalam skema pengungsian, dengan 2.072 orang tinggal di hunian sementara.
Bayangkan.
Dua bencana.
Dua ketakutan.
Dan manusia yang sama.
Mereka yang sebelumnya sudah kehilangan rumah karena Lewotobi, kemudian harus merasakan bumi kembali berguncang akibat gempa.
Di tenda, Duka Ternyata Tidak Mengenal Batas
Ada sesuatu yang mungkin lebih menyakitkan daripada kehilangan rumah. Yaitu kehilangan rasa aman.
Sebab rumah bukan sekadar dinding. Rumah adalah tempat seorang anak merasa ayahnya akan selalu ada. Rumah adalah tempat seorang ibu menyimpan piring. Rumah adalah tempat keluarga berkumpul ketika hujan turun.
Ketika rumah hilang, manusia bukan hanya kehilangan bangunan. Ia kehilangan sebuah bagian dari dirinya.
Namun Flores memiliki sesuatu yang tidak mudah dihancurkan oleh gempa maupun gunung api: persaudaraan
Menariknya, ketika korban gempa di Nagekeo membutuhkan bantuan, penyintas Lewotobi justru datang membantu. Mereka datang dari hunian sementara. Mereka yang sendiri sedang berjuang. Mereka membawa sembako, pakaian, pisang, ubi dan sayuran.
Tiga belas penyintas Lewotobi menempuh sekitar 344 kilometer menuju Nagekeo* untuk mengantarkan bantuan kepada sesama korban bencana. Mereka bahkan tiba ketika Lewotobi kembali meletus.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












