Tetapi angka tidak pernah bisa benar-benar menceritakan sebuah kehilangan.
Sebab satu angka bisa berarti seorang ibu.
Satu angka bisa berarti seorang ayah.
Satu angka bisa berarti anak yang tidak lagi mendengar suara bapaknya memanggil dari halaman rumah.
Dan satu angka bisa berarti sebuah keluarga yang malam itu kehilangan separuh kehidupannya.
Lalu Flores Belum Sempat Menangis
Ketika sebagian warga masih tidur dalam tenda, ketika sebagian rumah belum selesai dibersihkan dari puing, ketika tanah masih membuat orang-orang takut untuk tidur di dalam rumah — Lewotobi kembali mengingatkan bahwa Flores belum selesai menghadapi ujian.
Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur kembali erupsi pada 27 Agustus 2026. Dentuman terdengar. Abu vulkanik membubung ke langit. Kolom erupsi mencapai sekitar 2.500 meter di atas puncak. Warga panik. Kenangan tentang letusan-letusan sebelumnya kembali hidup di kepala para penyintas.
Bagi orang yang belum pernah mengungsi, mungkin tenda hanyalah kain yang berdiri di atas tanah.
Tetapi bagi mereka yang telah bertahun-tahun tinggal di dalamnya, tenda adalah rumah yang tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah.
Ada penyintas Lewotobi yang bahkan setelah hampir dua tahun belum sepenuhnya kembali kepada kehidupan lama. Rumah telah hilang. Kebun telah rusak. Tanah yang dahulu menjadi tempat menanam jagung, padi, singkong, dan berbagai tanaman kehidupan telah berubah menjadi ruang yang penuh ketidakpastian.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












