Perjalanan yang sebelumnya merupakan misi kemanusiaan berubah menjadi perjalanan panjang untuk mencari jalan pulang.
Sabtu, 29 Agustus, perjalanan itu akhirnya menemukan ujungnya. Dari Larantuka, Christian dan rombongan kembali ke Kota Kupang melalui penerbangan.
Lima hari telah berlalu. Lima hari menempuh jalan panjang di Flores. Lima hari menyaksikan bagaimana bencana meninggalkan jejaknya pada manusia.
Tetapi perjalanan itu juga menunjukkan sesuatu yang lain: bahwa di antara reruntuhan, selalu ada ruang untuk solidaritas. Di antara ketakutan, masih ada keberanian untuk datang.
Christian mungkin datang sebagai Wali Kota Kupang. Tetapi di Flores, ia datang membawa wajah yang lebih sederhana: seorang saudara yang mengetuk pintu rumah saudara lainnya ketika rumah itu sedang dilanda duka.
Sebab gempa boleh mengguncang tanah. Erupsi boleh mengubah arah perjalanan. Jalan boleh panjang dan melelahkan. Namun rasa kemanusiaan tidak mengenal batas kabupaten, kota, maupun pulau.
Satu pulau terluka, yang lain datang membantu.
Dan mungkin, itulah makna paling dalam dari perjalanan lima hari seorang Wali Kota yang memilih tidak hanya mengirim bantuan tetapi menyusuri sendiri luka Flores, untuk menjemput harapan dari tengah-tengah mereka yang sedang berduka.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












