Penutup: Demokrasi di Ujung Tanduk
Polri sejatinya adalah wajah negara di mata rakyat. Jika wajah itu tampil represif, penuh kekerasan dan korupsi, maka legitimasi negara ikut runtuh. Reformasi Polri bukan sekadar agenda internal, melainkan syarat mutlak bagi kelangsungan demokrasi di Indonesia.
Harapan masyarakat jelas: polisi yang profesional, transparan, dan humanis. Tetapi kenyataannya, luka demi luka—dari Sambo, Kanjuruhan, hingga Affan—membuat harapan itu terus tertunda.
Tanpa keberanian membongkar akar persoalan, reformasi akan terus menjadi jargon kosong. Dan Polri, alih-alih menjadi pelindung rakyat, justru akan semakin dipandang sebagai kekuatan yang menakutkan.
Oleh: Laurensius Bagus
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












