Daerah  

Ketika Polisi Kehilangan Wajah Rakyat

Avatar photo
IMG 20251003 WA0028

Prestasi yang Tertutup Skandal

Prestasi Polri bukan tidak ada. Program berbasis komunitas seperti Polisi RW mulai dirasakan manfaatnya. Kerja sama internasional dalam pemberantasan terorisme dan kejahatan lintas negara juga mendapat pengakuan. Beberapa layanan digital bahkan mempermudah masyarakat mengakses keadilan.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Namun, semua itu kerap tertutup skandal. Satu langkah maju terasa sia-sia ketika dua langkah mundur dilakukan akibat kasus kekerasan, pungli, atau penyalahgunaan kewenangan. Polri terjebak dalam paradoks: di atas kertas ada kemajuan, tetapi di mata publik, bayangan skandal lebih kuat daripada prestasi.

Baca Juga :  Warga Ikat Kaki Pelaku Percobaan Pemerkosaan Sebelum Diserahkan ke Polisi

Persimpangan Reformasi

Kini, Polri berada di persimpangan. Reformasi tidak bisa lagi berhenti pada digitalisasi layanan atau pembenahan citra. Tantangan utama adalah memperkuat mekanisme pengawasan eksternal, memastikan transparansi dalam penegakan hukum, serta berani membongkar jaringan bisnis gelap di internal.

Lebih jauh, Polri harus membangun ulang relasi dengan masyarakat sipil. Kasus Affan Kurniawan menunjukkan betapa rentannya aparat kehilangan legitimasi ketika kekerasan dianggap jalan pintas. Tanpa perubahan mendasar, setiap tragedi baru hanya akan memperdalam jurang ketidakpercayaan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung