KR – Reformasi Polri selalu menjadi topik hangat di ruang publik. Dua dekade sudah sejak strategi reformasi kepolisian 2005–2025 digulirkan, harapan besar masyarakat ternyata belum sebanding dengan kenyataan di lapangan.
Alih-alih menghadirkan rasa aman, Polri justru berulang kali terseret dalam skandal yang melukai kepercayaan publik.
Isu ini kembali relevan setelah lagu “Sukatani” dari The Panturas viral di media sosial. Lagu itu bercerita tentang kehidupan rakyat kecil yang stagnan, seakan menjadi cermin kegagalan reformasi Polri: ada janji perubahan, tetapi realitasnya masih banyak kekecewaan.
Modernisasi yang Kosmetik
Tidak bisa dipungkiri, Polri telah melakukan berbagai langkah modernisasi. Layanan publik kini terdigitalisasi, nomor darurat 110 tersedia, dan program perlindungan perempuan serta anak mulai dikenal luas. Bahkan pada 2021, Gallup sempat menempatkan Polri di jajaran kepolisian dengan tingkat kepercayaan tertinggi di dunia (92%).
Namun, data terbaru menunjukkan jurang antara pencitraan dan kenyataan. Survei Setara Institute pada 2024 mencatat 61,7% ahli menilai kinerja Polri masih buruk, sementara hanya 16,8% yang menilai positif. RUU Reformasi Polri yang digadang-gadang membawa perubahan justru dikritik karena lebih menambah kewenangan daripada memperkuat akuntabilitas.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










