Iringan musik yang lembut memperkuat suasana melankolis, berpadu harmonis dengan tema laut dan kehidupan yang diangkat dalam puisi.
Walau ada beberapa bagian tempo dan nada yang masih perlu diperbaiki, kejujuran ekspresi Nurul Ina membuat pertunjukan tersebut tetap menyentuh hati penonton.
Menurut Thomas Swalar, musikalisasi puisi bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi aksi kebudayaan.
“Ketika generasi muda seperti Nurul Ina berani membawa karya sastra lokal ke panggung, itu tanda bahwa sastra Lembata masih berdenyut,” ungkapnya.
Penampilan Nurul Ina menjadi jembatan antara generasi muda dan sastra daerah, menjadikan puisi lokal tidak hanya dibaca, tetapi juga dihidupkan kembali dalam bentuk nyanyian.
Upaya ini penting di tengah arus globalisasi yang kerap mengikis tradisi lisan daerah.
Keberanian Nurul Ina menunjukkan suara dan identitas kultural generasi muda Lembata yang masih berakar pada tanah dan laut leluhur.
Melalui “Nyanyian Negeri Paus”, Nurul Ina membuktikan bahwa puisi dapat menjadi nyanyian jiwa dan bahasa hati, menautkan manusia dengan alam sekitarnya.
Suaranya menjadi gema kesadaran ekologis dan kultural pesannya bahwa Lembata masih bernyanyi, dan para pemudanya siap meneruskan lagu kehidupan itu.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












