Salah satu keunggulan yang ditawarkan ATK adalah kurikulum berbasis vokasi dengan komposisi 60% praktek lapangan dan 40% teori.
Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa terbiasa menghadapi masalah nyata di lapangan, sekaligus memiliki dasar teori yang kuat.
Metode pembelajaran berbasis problem solving juga menjadi ciri khas ATK. Mahasiswa diajak terlibat langsung dalam pemecahan masalah, misalnya mengkaji jalan rusak lalu membuat analisis penyebab kerusakan, rancangan perbaikan, hingga perencanaan anggaran.
“Di sini mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi langsung mengkaji persoalan di lapangan. Jadi mereka bisa menganalisis, mencari solusi, sekaligus membuat rencana kerja. Itulah yang disebut pendidikan vokasi berbasis dunia kerja nyata,” terang Direktur ATK.
Selain fokus pada mutu akademik, ATK juga memberikan perhatian pada kemudahan akses pendidikan.
Mahasiswa dari keluarga tidak mampu dapat mengakses beasiswa serta skema pembayaran uang kuliah yang bisa dicicil dua kali per semester.
Kebijakan ini diambil agar pendidikan tinggi tetap terbuka bagi seluruh masyarakat NTT tanpa terkendala masalah ekonomi.
Saat ini ATK sedang membangun kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Jika proses pengkajian selesai, ATK akan menjadi Politeknik Pekerjaan Umum kedua di Indonesia, setelah Politeknik PUtech Semarang.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
