Indeks

Thomas Swalar: Sastra Adalah Jantung Peradaban, Bukan Sekadar Hiburan

IMG 20260417 WA02782

KR – Pandangan bahwa sastra hanya sekadar hiburan atau pelengkap dalam dunia pendidikan dinilai keliru oleh Thomas Krispianus Swalar, seorang penulis, penyair, dan Guru di SMA N 1 Nagawutun Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa sastra memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia, baik secara emosional, sosial, maupun kultural.

“Sastra bukan sekadar rangkaian kata indah. Ia adalah rekaman jiwa manusia dan jembatan antara realitas dengan kedalaman emosi yang tidak bisa dijelaskan oleh logika,” ujar Thomas pada Jumat,17 April 2026

Dia menjelaskan, salah satu kekuatan utama sastra adalah kemampuannya membangun empati.

“Saat membaca karya sastra, kita dipaksa keluar dari ego kita sendiri dan masuk ke dalam kehidupan orang lain. Kita bisa merasakan penderitaan, konflik batin, bahkan harapan orang lain tanpa harus mengalaminya secara langsung,” jelasnya.

Menurutnya, di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, sastra menjadi alat penting untuk menumbuhkan kepedulian sosial.

Selain itu, sastra juga berfungsi sebagai medium kritik sosial yang efektif.

Thomas mencontohkan karya-karya besar seperti milik Pramoedya Ananta Toer dan novel 1984 karya George Orwell yang mampu menggugah kesadaran publik terhadap ketidakadilan.

“Sastra memberi suara bagi mereka yang dibungkam. Ia adalah bentuk perlawanan halus yang mampu menembus batas kekuasaan dan sensor,” tegasnya.

Di tingkat personal, Thomas menilai sastra juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental.

“Puisi membantu kita mengungkapkan perasaan yang sulit diucapkan. Esai merapikan pikiran. Fiksi memberi ruang pelarian yang sehat dari tekanan hidup,” katanya.

Ia menambahkan bahwa sastra memberikan ruang kontemplasi di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan.

Sebagai akademisi yang juga meneliti tradisi lokal seperti Lefa di Lembata, Thomas menekankan pentingnya sastra dalam menjaga identitas budaya.

“Sastra adalah penjaga memori kolektif. Ia menyimpan nilai, bahasa, dan pengalaman hidup suatu masyarakat agar tidak hilang ditelan zaman,” jelasnya.

Ia juga dikenal aktif menulis puisi bertema Kartini, kebangsaan, serta nilai-nilai sosial budaya yang berakar dari kearifan lokal NTT.

Di akhir pernyataannya, Thomas menegaskan bahwa sastra memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter manusia.

“Dengan membaca dan menghargai sastra, kita belajar menjadi manusia yang lebih utuh, lebih kritis, dan lebih bijaksana,” tutupnya.

Menurutnya, kehidupan tanpa sastra mungkin tetap berjalan, tetapi akan kehilangan kedalaman makna dan nilai kemanusiaan yang sejati.**

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung

Exit mobile version