Keesokan harinya, rapat kembali digelar. Kali ini suasana masih sama—hening.
Bima mulai membuka diskusi.
“Jadi, siapa yang punya pendapat?”
Semua masih diam.
Raka menarik napas dalam-dalam. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia memberanikan diri.
“Pak, saya mau coba kasih pendapat.”
Semua langsung menoleh ke arahnya.
“Saya merasa rencana kemarin kurang efektif, Pak. Karena menurut saya, tim belum siap menjalankannya,” kata Raka pelan tapi jelas.
Ruangan mendadak sunyi.
Bima menatapnya, kali ini tanpa marah.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
Raka mulai lebih percaya diri.
“Karena kami butuh waktu untuk persiapan, Pak. Kalau dipaksakan sekarang, hasilnya bisa kurang maksimal.”
Beberapa rekan mulai mengangguk.
Sinta yang biasanya diam, tiba-tiba ikut bicara.
“Saya juga sebenarnya merasa hal yang sama, Pak…”
Bima menghela napas, lalu mengangguk.
“Kalau begitu, kita revisi rencananya.”
Setelah rapat selesai, suasana terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih jelas.
Sinta menghampiri Raka.
“Terima kasih ya… gara-gara kamu ngomong, aku jadi berani juga.”
Raka tersenyum.
“Ternyata ngomong jujur nggak seseram yang aku pikir ya.”
Dari jauh, Andi melihat mereka sambil tersenyum.
Sejak hari itu, Raka mulai paham satu hal penting dalam hidupnya.
Bahwa tidak ada manusia yang bisa membaca pikiran.
Dan satu-satunya cara agar orang lain mengerti adalah dengan berbicara—jujur, jelas, dan tetap menghargai.
Ia pun berbisik dalam hati,
“Mulai sekarang… aku akan belajar berkomunikasi dengan lebih baik.”
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












