Ketika Teknologi Menggilas Nilai, Bukan Salah Ibu Mengandung

Avatar photo
FB IMG 1754375575661

KR – Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini melaju dengan sangat pesat, hingga terkadang sulit bagi kita membedakan antara kenyataan dan ilusi digital.

Dunia saat ini tengah berada dalam pusaran transformasi besar-besaran yang memaksa setiap individu, baik secara sadar maupun terpaksa, untuk mengikuti arus perubahan tersebut.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Fenomena ini tidak hanya menyentuh orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang kini bahkan lebih mahir dalam mengoperasikan perangkat teknologi.

Baca Juga :  Dukcapil Hadir di MPP Kupang, Urus KTP hingga KIA Jadi Lebih Cepat

Ini bukan kesalahan siapa pun, bukan pula “salah bunda mengandung”.

Realitas ini merupakan konsekuensi dari era pengetahuan dan algoritma, yang menuntut manusia untuk beradaptasi secepat mungkin dengan segala bentuk kecanggihan teknologi.

Namun, dalam gelombang digitalisasi ini, kita juga menghadapi ancaman nyata terhadap nilai-nilai fundamental kehidupan berbangsa, salah satunya adalah nasionalisme.

Baca Juga :  Indosat Terus Hadir di Tengah Krisis, Ribuan Masker Disalurkan ke Korban Gunung Lewotobi

Membaca puisi “Nasionalisme di Era Algoritma” karya Denny JA, saya merenung apa yang sebenarnya ingin disampaikan penyair melalui larik-larik yang menggugah ini?

Membaca Puisi, Membaca Kehidupan 

Sebagian orang mungkin merasa kesulitan menafsirkan puisi.

Bahkan ada yang menganggap puisi membingungkan, terlalu penuh metafora, atau tidak to the point.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung