“Tapi Puji Tuhan, beta masih bisa bertahan,” katanya sambil tersenyum.
Bertahan, bukan karena ia pedagang yang hebat. Tapi karena ia penjaga rindu yang setia. Ia menjaga agar nama sebuah desa kecil di Sikka tetap hidup, menyala di bawah lampu-lampu bambu di Jl. Palapa.
Dari Kolisia B, ia ingin berbisik kepada semua orang Kupang: Maumere itu indah. Jalan ke sana mudah. Dan di seberang desanya, ada sebuah bukit bernama Bukit Liaga, tempat yang katanya Tuhan ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, begitu indah namun belum terjamah.
Malam itu di Cafe Tanjung Kolisia Kupang, Andyka Erwin Naing tidak sedang berjualan kopi. Ia sedang mengundang kita untuk pulang. Pulang melihat NTT kita sendiri.
Karena pada akhirnya, cafe ini bukan tentang Kupang atau Maumere. Ini tentang seorang anak Kupang yang jatuh cinta pada sebuah tanjung di Sikka, dan memutuskan untuk tidak pernah melupakannya.
(ran)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












