Surat Cinta Untuk Kolisia: Dari Tanjung di Sikka, Andyka Erwin Naing Menanam Rindu di Jantung Kota Kupang

Reporter : Ivan Wuran
foto media online
Andyka Erwin Naing (kanan, memegang bendera merah putih) bersama sahabatnya saat berada di bukit Liaga, Tanjung Kolisia, Kecamatan Magepanda, Kabupaten SIKKA, Nusa Tenggara Timur. (Foto.dok. Istimewa)

Maka ia bangun gazebo. Satu, lalu tiga. Lalu ia beri nama: Tanjung Kolisia. Karena di sanalah tanjung bertemu teluk. Karena di sanalah alam menumpahkan semua yang ia punya.

Dan ketika ia kembali ke Kupang, ia tidak pulang sendiri. Ia membawa nama itu bersamanya. Ia tancapkan nama Kolisia di tengah Kota Kupang.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Kalau bukan katong-katong ini, siapa lagi yang mau promosikan?” ucapnya.

Itulah surat cintanya. Tidak ditulis dengan tinta, tapi dengan bambu.

Baca Juga :  BPJS Kesehatan Buka Lowongan 2024: Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Di Kupang, ia sengaja tidak membangun tembok. Semua dari bambu. Gazebo, kursi, meja, bahkan dinding yang tidak ada dindingnya. “Kita di NTT ini kaya bambu. Kenapa harus malu menunjukkan kearifan lokal kita sendiri?” katanya.

Di meja-meja bambu itu, ia tidak menyajikan gengsi. Ia menyajikan ingatan. Jagung bose yang pulen, ikan lawar yang pedas, kuah asam yang segar, dan yang paling ia banggakan: Tuna Bakar.

Baca Juga :  Cuaca Ekstrem di NTT, BMKG Keluarkan Peringatan Dini

“Nasi ikan tuna bakar Rp30.000,” katanya, hampir seperti berbisik. “Di sini, dengan Rp30 ribu, katong bisa makan tuna. Ikan yang di Jepang harganya bisa miliaran. Tuhan sudah kasih katong rezeki begitu murah di NTT, rugi kalau katong tidak makan.”

Di luar, ekonomi Kupang sedang tidak baik-baik saja. Ia tahu itu. Orang-orang memilih makan di rumah. Dompet menipis. Omset cafe naik turun seperti ombak di Tanjung Kolisia.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung