Ketika Teknologi Menggilas Nilai, Bukan Salah Ibu Mengandung

Avatar photo
FB IMG 1754375575661

Di sinilah pentingnya semangat nasionalisme yang sejati, bukan nasionalisme sempit yang eksklusif, tetapi nasionalisme inklusif yang mengakui dan merayakan keberagaman.

Denny JA dalam puisinya menulis:

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Mereka memahat impian dari luka dan air mata

Menjahit setiap perbedaan dalam simpul kuat.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekayaan. Keindonesiaan kita adalah mozaik yang terdiri dari suku, ras, agama, dan golongan.

Baca Juga :  Lowongan Kerja KAI Posisi SMA/SMK, Gaji UMK-BPJS, Cek Info di Sini!

Justru karena itulah Indonesia menjadi unik dan kuat. Maka, tugas kita adalah menjaga dan memperkuat simpul-simpul perbedaan itu agar tidak tercerai berai oleh kepentingan sesaat.

Belajar dari Sejarah, Menata Masa Depan 

Puisi ini ditutup dengan refleksi mendalam:

“Sejarah memberinya memori

Negara memberinya identitas

Tanah air memberi rumah untuk pulang.”

Bait ini adalah pengingat bahwa Indonesia bukanlah sesuatu yang hadir tiba-tiba, melainkan hasil perjuangan panjang. Tanah air adalah rumah, tempat kita berpulang.

Baca Juga :  Peringatan BMKG Angin Kencang di NTT, Berikut Wilayah yang Harus Waspada

Dan rumah ini hanya bisa tetap kokoh jika kita semua turut menjaga pondasinya: rasa cinta, tanggung jawab, dan gotong royong.

Sebagai generasi penerus, kita memiliki tugas moral untuk meneruskan perjuangan tersebut, tentu dengan cara dan strategi sesuai zaman.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung