Ketika Teknologi Menggilas Nilai, Bukan Salah Ibu Mengandung

Avatar photo
FB IMG 1754375575661

Namun sesungguhnya, membaca puisi adalah membaca kehidupan dalam bentuk paling padat dan estetik.

Puisi adalah olah rasa penyair yang dituangkan dalam pilihan kata yang telah disaring sedemikian rupa.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Dalam dunia sastra, puisi berbeda dengan prosa dan drama. Ia menuntut ketajaman diksi dan kekuatan imajinasi.

Maka tak heran bila pembaca yang tidak memiliki pengetahuan dasar tentang puisi akan merasa kesulitan menangkap makna di balik tiap bait yang ditulis.

Baca Juga :  Ada Lima Alasan BEMNus NTT Tolak penerapan Asas Dominus Litis dalam RKUHAP

Meski begitu, justru itulah kekuatan puisi, mampu menggetarkan hati dan membangkitkan kesadaran, tanpa harus menjelaskannya secara gamblang.

Antara Algoritma dan Sumpah Pemuda 

Salah satu bait puisi Denny JA yang menyentuh saya berbunyi:

“Tapi, di antara getar algoritma dan sinyal digital,

Datang bisikan dari jauh, dari tahun 1928.”

Bait ini membawa pembaca melintasi lorong waktu, dari hiruk-pikuk digital masa kini menuju satu titik penting dalam sejarah bangsa: tahun 1928, tahun diikrarkannya Sumpah Pemuda.

Baca Juga :  MPP Kupang Jadi Pusat Layanan Terlengkap di NTT

Pada masa itu, bangsa Indonesia belum merdeka.

Namun dalam Kongres Pemuda II, para pemuda dari berbagai penjuru nusantara telah menyadari bahwa hanya persatuan yang mampu menjadi jalan menuju kemerdekaan.

Mereka dengan penuh semangat menyatukan keberagaman dalam satu tekad luhur: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung