Paskah dan Tahun Yubileum 2025: Mengetuk Pintu Hati Yesus, Menyalakan Harapan

Avatar photo
Reporter : Hendrik
tahun yobel e1745128146128

Dengan demikian, kita juga mengetuk pintu rahmat: tempat lahirnya pertobatan, pengampunan, dan kebangkitan iman.

Paskah disebut sebagai mahkota optimisme harian, di mana harapan kecil dalam kehidupan sehari-hari – seperti kasih ibu yang menenangkan anaknya – mencerminkan gema kasih Tuhan yang selalu memperbarui dan memulihkan.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Tantangan Sosial: Hilangnya Semangat Hidup

Dalam konteks sosial, Paus Fransiskus menyoroti fenomena menurunnya angka kelahiran di tengah negara maju yang justru mengalami pertumbuhan ekonomi pesat.

Baca Juga :  Sosok Ayah Hebat, Lahirkan Pengkhotbah Cilik Dunia, Jaden Lianto Menginspirasi Jepang

Ini mencerminkan redupnya semangat hidup, di mana manusia lebih berorientasi pada keuntungan ketimbang hubungan.

Paskah menjadi panggilan untuk membangkitkan kembali semangat hidup, semangat berbagi, dan semangat mencintai.

Melihat Salib, Menemukan Harapan

Pater Sindhunata juga mengajak umat untuk merenungkan luka Yesus di salib. Dalam luka itulah terbuka pintu hati-Nya, tempat di mana cinta, pengampunan, dan belas kasih mengalir tanpa batas.

Baca Juga :  Pesan Paskah 2025 Uskup Agung Ende di Tengah Dunia yang Terluka

Melalui meditasi atas luka-luka ini, umat diingatkan bahwa dari penderitaan pun bisa lahir kekuatan, dan dari luka bisa muncul harapan baru.

Mengakhiri renungannya, Pater Sindhunata menyampaikan sebuah doa yang menggugah, diilhami dari kata-kata Santo Bernardus dan insiklik Paus Fransiskus Dilectus Nos. Doa itu menjadi seruan rohani untuk semakin mendalami kasih Tuhan di Tahun Yubelium ini.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung