Saat pertama kali dibuka pada tahun 2013, SMAK Santo Yakobus hanya memiliki 12 siswa. Namun, dalam waktu enam tahun, jumlah siswa meningkat signifikan hingga mencapai 250 siswa pada tahun 2019.
Di tahun yang sama, sekolah ini resmi berada di bawah naungan Kementerian Agama sebagai Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK).
SMAK Santo Yakobus menonjol karena pendekatannya yang holistik. Selain mengajarkan ilmu pengetahuan umum, sekolah ini menanamkan nilai-nilai liturgi dan moral Katolik yang mendalam. Hal ini ditunjang oleh pelajaran Bahasa Latin dan pelatihan untuk menjadi pemimpin gereja.
Jacobus menambahkan, lulusan sekolah ini banyak yang melanjutkan ke perguruan tinggi umum, seminari tinggi, hingga bergabung dengan komunitas religius di dalam dan luar negeri, seperti Spanyol dan Filipina.
“Beberapa alumni kami menjadi frater, bruder, bahkan ada yang bergabung dengan biara,” kata Jacobus.
Kini SMAK Santo Yakobus terbuka untuk siswa dari berbagai daerah, baik yang memiliki panggilan hidup religius maupun tidak.
Sekolah ini mempersiapkan mereka untuk masa depan, baik di dunia profesional maupun dalam pelayanan gereja.“Orientasi kami adalah membentuk karakter siswa yang kuat sebagai seorang Katolik. Kami berharap lebih banyak generasi muda yang bergabung dan berkembang bersama SMAK Santo Yakobus,” tutup Jacobus Kia. (HN)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












