Opini  

Seksual Bukan Soal Lapar: Menelisik Luka Sosial di NTT yang Religius

Avatar photo
Reporter : Hendrik
IMG 20250408 WA0027

“Kita religius, tapi tidak bermoral. Kita adat, tapi lupa nilai,” kata seorang pastor dalam homili Paskah di Kupang.

Agama dan adat seolah tidak lagi cukup untuk menahan gelombang kekerasan seksual yang kian masif dan brutal.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Saatnya Bicara: Diam Adalah Kekerasan Baru 

Budaya tabu membicarakan seksualitas harus dihentikan.

Kita tidak bisa lagi menutupi kekerasan dengan alasan “malu” atau “aib keluarga”.

Baca Juga :  Kisah Dani dan Sang Ratu Buaya

Langkah yang perlu diambil:

1. Edukasi seks yang benar, bukan tabu

2. Sistem pelaporan yang mudah dan aman

3. Penegakan hukum yang adil tanpa pandang nama baik

4. Dukungan nyata bagi korban

5. Pendidikan sejak dini untuk anak tentang hak tubuh dan keberanian berkata “tidak”

Penutup: Luka Ini Tidak Akan Sembuh dengan Doa Saja

Baca Juga :  Titipan Rindu untuk TNGP 2026

Paradoks religiusitas dan kriminalitas di NTT harus diurai. Karena luka yang tidak diobati akan diwariskan.

Dan jika kekerasan diwariskan, ia akan menjadi budaya.

Keberanian untuk melihat, bicara, dan bertindak adalah obat pertama dari luka ini.

Karena jika tidak sekarang, generasi yang akan datang akan mewarisi kegelapan yang lebih dalam.**

 

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung