“Kami ingin belajar dari Batam yang sudah lama menjadi kawasan FTZ dan terbukti memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu kami datang untuk mendengar langsung pengalaman Batam,” kata Melki.
Ia mengatakan pengalaman Batam penting dipelajari, terutama terkait strategi menarik investasi, membangun iklim usaha yang kompetitif, serta memperkuat konektivitas perdagangan di kawasan kepulauan.
Menurut Melki, tantangan terbesar pembangunan ekonomi di NTT saat ini masih berkaitan dengan tingginya biaya logistik antarwilayah. Kondisi geografis sebagai provinsi kepulauan menyebabkan distribusi barang membutuhkan biaya besar dan berdampak langsung pada harga kebutuhan masyarakat.
“Problem utama provinsi kepulauan adalah biaya logistik yang besar. Jika infrastruktur laut memadai, distribusi barang dan pertumbuhan ekonomi tentu akan lebih baik,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Batam Amsakar Achmad menegaskan keberhasilan kawasan FTZ tidak hanya ditentukan oleh status kawasan semata, tetapi juga ditopang kepastian regulasi dan pelayanan investasi yang cepat, mudah, dan efisien.
Menurutnya, investor akan lebih tertarik masuk ke suatu daerah apabila proses perizinan sederhana dan didukung sistem pelayanan yang terintegrasi melalui digitalisasi.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












