Di Baun, waktu seakan berjalan lebih lambat. Matahari perlahan naik, menyibakkan cahaya di sela-sela dedaunan. Udara pagi membawa aroma tanah dan rerumputan yang masih menyimpan embun.
Dari halaman rumah Meki, pandangan mata terasa lapang. Pepohonan, rumah-rumah sederhana dan hamparan alam menjadi lukisan yang tidak dibuat-buat. Semuanya hadir apa adanya.
Menjelang siang, perjalanan kecil kembali dilanjutkan. Bukan tentang mengejar tempat wisata terkenal, melainkan menikmati perjalanan itu sendiri. Sesekali berhenti, mengambil gambar, menyapa warga dan membiarkan kaki menentukan ke mana langkah berikutnya.
Menunggu matahari turun ternyata sama menyenangkannya dengan menyambut pagi. Langit perlahan berubah warna. Cahaya keemasan menyentuh pepohonan dan atap rumah warga. Senja datang pelan-pelan, seolah mengingatkan bahwa setiap perjalanan memiliki waktunya untuk pulang.
Di tapak batas, ketika matahari hampir tenggelam, kami kembali duduk dan menikmati pemandangan. Tidak banyak yang dibicarakan. Sebab terkadang, keindahan cukup dinikmati tanpa harus dijelaskan panjang lebar.
Libur kecil di Baun akhirnya menjadi perjalanan sederhana yang meninggalkan cerita besar. Tentang persahabatan, keramahan, alam dan kebahagiaan yang ternyata bisa ditemukan dari hal-hal kecil.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












