Daerah  

BUMDes & SDM Jadi Kunci Harapan PMD Flores Timur

Avatar photo
IMG 20251106 110820 628

Menurutnya, bila sinergi itu berjalan baik, kedua lembaga ekonomi desa tersebut bisa menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat, asalkan tidak berebut “lahan usaha” yang sama.

Dalam pandangannya yang lebih luas, Paulus menilai bahwa budaya masyarakat di Flores Timur turut mempengaruhi lambatnya perkembangan ekonomi desa.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Kultur kita bukan kultur pedagang. Masyarakat cenderung konsumtif dan belum terbiasa mengakumulasi modal,” tegasnya.

Baca Juga :  Rombongan KADIN Indonesia Gelar Berbagai Pertemuan Strategis di New Delhi, India

Ia mencontohkan, banyak warga yang ketika menerima dana besar cenderung menggunakannya untuk kebutuhan konsumsi ketimbang investasi.

“Masyarakat kita, pada umumnya Ketika memiliki uang yang cukup banyak ditangan, tidak dimanfaatkan untuk mengakumulasikannya dalam usaha dan cenderung membelanjakan hal-hal yang bersifat keinginan ketimbang kebutuhan”

Faktor-faktor sosial dan kultural inilah yang sering diabaikan ketika pemerintah pusat meluncurkan program pemberdayaan yang bersifat nasional dan seragam di seluruh daerah.

Baca Juga :  Waket Informasi NTT Minta Pemdes Terbuka Kepada Publik Soal Pengelolah Dana Desa

Paulus menilai bahwa program nasional seperti Koperasi Merah Putih seharusnya tidak diterapkan secara seragam di seluruh wilayah Indonesia.

“Setiap daerah memiliki karakter, potensi, dan kualitas SDM yang berbeda. Tidak semua bisa beradaptasi dengan pola yang sama,” ujarnya.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung