Menurutnya, bila sinergi itu berjalan baik, kedua lembaga ekonomi desa tersebut bisa menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat, asalkan tidak berebut “lahan usaha” yang sama.
Dalam pandangannya yang lebih luas, Paulus menilai bahwa budaya masyarakat di Flores Timur turut mempengaruhi lambatnya perkembangan ekonomi desa.
“Kultur kita bukan kultur pedagang. Masyarakat cenderung konsumtif dan belum terbiasa mengakumulasi modal,” tegasnya.
Ia mencontohkan, banyak warga yang ketika menerima dana besar cenderung menggunakannya untuk kebutuhan konsumsi ketimbang investasi.
“Masyarakat kita, pada umumnya Ketika memiliki uang yang cukup banyak ditangan, tidak dimanfaatkan untuk mengakumulasikannya dalam usaha dan cenderung membelanjakan hal-hal yang bersifat keinginan ketimbang kebutuhan”
Faktor-faktor sosial dan kultural inilah yang sering diabaikan ketika pemerintah pusat meluncurkan program pemberdayaan yang bersifat nasional dan seragam di seluruh daerah.
Paulus menilai bahwa program nasional seperti Koperasi Merah Putih seharusnya tidak diterapkan secara seragam di seluruh wilayah Indonesia.
“Setiap daerah memiliki karakter, potensi, dan kualitas SDM yang berbeda. Tidak semua bisa beradaptasi dengan pola yang sama,” ujarnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












