Daerah  

Abri Kore: Program Boleh Beda, Tujuan Tetap Sama – Dari Lalamentik Hingga Melki-Johni, Ini Estafet 67 Tahun Pembangunan NTT

Avatar photo
Reporter : Ivan Wuran
IMG 20260917 WA0026

*Hendrikus Fernandez (1988-1993)* dengan GEMPAR dan GERBADES fokus peningkatan pendapatan rakyat dari potensi lokal.

*Herman Musakabe (1993-1998)* mewariskan kebijakan paling membekas: *tenun ikat sebagai seragam ASN* yang menggerakkan ekonomi perajin perempuan hingga kini.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

*Piet A. Tallo (1998-2008)* dengan filosofi *Tiga Batu Tungku*: Ekonomi Rakyat, Pendidikan Rakyat, Kesehatan Rakyat.

*Anggur Merah Rp 817 Miliar Hingga TJPS*

*Frans Lebu Raya (2008-2018)* dengan program fenomenal *Desa Mandiri Anggur Merah*: Rp 250 juta per desa, total *Rp 817,5 miliar untuk 3.270 desa* mulai 2011.

Baca Juga :  PT Triputra Agro Persada Buka Lowongan Kerja Tahun 2026

*Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef Nae Soi (2018-2023)* dengan pariwisata Labuan Bajo sebagai prime mover, field leadership, dan *Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS)*.

Setelah masa transisi Robert Simbolon, Ayodhia Kalake, dan Andriko Susanto, estafet kini di tangan Melki Laka Lena-Johni Asadoma (2025-2030)* dengan semangat “Ayo Bangun NTT”* dan Dasa Cita: NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, Berkelanjutan.

Baca Juga :  Kacabjari Waiwerang Awasi Ketat Penggunaan Dana Desa

*Tidak Mulai dari Nol*

Abri Kore menegaskan sejarah NTT tidak terputus.

“Estafet itu artinya kita tidak memulai semuanya dari nol. Setiap pemimpin menerima apa yang sudah dikerjakan sebelumnya, kemudian menghadapi persoalan yang berbeda pada masanya, memberikan gagasan dan kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, lalu menyerahkannya kepada kepemimpinan berikutnya. Di situlah kesinambungan pembangunan itu terjadi,” jelasnya.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung