“Kalau yang rusak parah memang betul, itu kasih bangun 100 persen,” tegasnya.
Menurut dia, jika benar beredar informasi bahwa bantuan rusak ringan Rp 15 juta , rusak sedang Rp 30 juta maupun rusak berat Rp 75 Juta tidak cukup bagi keluarga yang sudah kehilangan tempat tinggal dan sedang menghadapi tekanan ekonomi.
“Sekarang mereka sedang kesulitan ekonomi. Dengan bencana ini, mereka mau ambil uang dari mana? Bantuan dari mana lagi yang mereka harapkan untuk bangun rumah?” katanya.
Ia berharap kebijakan pemerintah benar-benar menjadi jalan keluar bagi masyarakat yang kehilangan rumah.
“Pada prinsipnya, setiap masyarakat yang terdampak, yang bangunan rumahnya hancur, harus dibantu secara maksimal oleh pemerintah. Itu harus menjadi solusi terakhir bagi mereka,” ujarnya.
Baginya, kehadiran negara tidak boleh hanya terasa ketika bantuan datang. Kehadiran negara harus terlihat ketika masyarakat mulai kembali menata kehidupan dari puing-puing yang tersisa.
“Sehingga apa yang mereka rasakan hari ini betul-betul punya manfaat, punya dampak. Itu bentuk kehadiran negara,” katanya.
Gempa besar tersebut, kata Marinus, juga harus menjadi pelajaran bagi pemerintah dan masyarakat.
Ia menilai pembangunan rumah di Flores ke depan harus memperhatikan standar bangunan tahan gempa serta kondisi geografis masing-masing wilayah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
