KUPANG, kabartimor.com —Peringatan Hari Keadilan Ekologis 2026 diwarnai aksi generasi muda di arena Car Free Day (CFD) depan Rumah Jabatan Gubernur NTT, Jalan El Tari, Oebobo, Kota Kupang, Sabtu (19/9/2026).
Aksi tersebut menjadi ruang konsolidasi masyarakat sipil dan anak muda untuk menyuarakan krisis ekologis yang dinilai semakin mengancam ruang hidup dan sumber penghidupan rakyat di Nusa Tenggara Timur.
Salah satu orator muda, Sandiang Kaya Ndapa Namung, menegaskan Hari Keadilan Ekologis tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Menurutnya, kerusakan ekologis adalah krisis kemanusiaan.
“Hari ini kita berdiri bukan untuk seremoni. Kita berdiri karena krisis ekologis adalah krisis kehidupan rakyat. Ketika hutan rusak, laut tercemar, dan sumber air terancam, maka masyarakatlah yang akan merasakan dampaknya secara langsung,” tegas Sandiang dalam orasinya.
Soroti Tambang Ilegal hingga Krisis Air
Dalam orasinya, Sandiang menyoroti persoalan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah, mulai dari kebakaran hutan, konflik agraria, pencemaran laut, krisis air, persoalan sampah, hingga dampak perubahan iklim.
Ia juga menyinggung masih adanya aktivitas pertambangan emas ilegal di sejumlah wilayah di NTT, termasuk di Sumba Timur dan kawasan Wanggameti. Aktivitas tersebut, kata dia, perlu menjadi perhatian serius karena bersinggungan langsung dengan kawasan hutan, sumber mata air, dan ruang hidup masyarakat adat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












