SMAK St. Yakobus Lewoleba Warnai Hari Toleransi Lembata

Avatar photo
IMG 20251118 WA0027

Prolog ini membangun rasa penasaran penonton dan membawa mereka masuk ke dialog babak pertama tentang kesibukan mengejar uang.

Babak kedua menampilkan metanoia, ajakan untuk berhenti berdebat dan mulai mendengarkan suara hati.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Bentangan kain adat Lamaholot menjadi simbol penutup fragmen, memperlihatkan keheningan sebagai ruang perjumpaan manusia dengan Tuhan.

Baca Juga :  Cahaya Iman di Dokeng, Uskup Larantuka Bawa Berkat Kasih

Narator kembali menyampaikan epilog reflektif:

“Di bumi ini, ada ribuan cara manusia memanggil nama Tuhan…
Namun dalam keheningan, semua nama menjadi satu. Uang dapat membangun rumah ibadah, tetapi keheninganlah yang membangun jembatan antar hati.”

Epilog ini membawa suasana hening yang mengajak penonton merenungkan kembali makna toleransi dan persaudaraan universal.

Setelah fragmen, SMAK menampilkan monolog berjudul “Tentang Kita”, yang menegaskan bahwa semua manusia berasal dari satu sumber ilahi yang sama.

Baca Juga :  Paskah dan Tahun Yubileum 2025: Mengetuk Pintu Hati Yesus, Menyalakan Harapan

Karena itu, tidak ada alasan untuk saling menghakimi atau merasa paling benar.

“Agama adalah jalan menuju rumah abadi, bukan alat untuk membangun tembok pemisah.”

Semoga Lembata terus menjadi contoh kerukunan bagi Indonesia dan dunia.

Reporter: KR

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung