Kegiatan ini sejalan dengan semangat dokumen Nostra Aetate (1965) dari Konsili Vatikan II yang menekankan dialog antaragama, penghormatan tradisi religius, dan kerja sama demi perdamaian dunia.
SMAK St. Yakobus Rasul Lewoleba turut ambil bagian, menghadirkan kreativitas seni yang menggugah.
Usai karnaval, suasana semakin hangat dengan acara hiburan, di mana SMAK St. Yakobus Rasul Lewoleba menjadi perwakilan sekolah dalam pentas seni tingkat kabupaten.
Acara puncak menampilkan fragmen reflektif berjudul “Uang Bersabda”, karya ES (Ledalero, 26 Oktober 2025) dengan adaptasi panggung oleh Berhan Marak.
Fragmen ini disutradarai oleh Benediktus Bataona, Yosep Plea, dan Mey Lejab, di bawah supervisi Kepala Sekolah Charles Primus Kia.
Pementasan menggambarkan tokoh-tokoh sederhana: petani, sopir, penjual sayur, pejabat, aktivis, hingga seorang guru.
Mereka melambangkan kehidupan nyata masyarakat yang bekerja sambil mencari makna kehadiran Tuhan di tengah hiruk pikuk dunia.
Narator membuka fragmen dengan prolog lembut namun kuat:
“Ada banyak jalan menuju cahaya…
Ada yang berdoa dengan lonceng, ada yang bersujud menghadap kiblat…
Mereka bukan nabi, bukan imam, tetapi anak-anak bumi yang mencari Tuhan di tengah bising dunia.”
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












