“Ini seperti permainan karambol. Sasarannya Jokowi, tapi efeknya bisa mental ke Prabowo juga,” katanya.
Analis politik Adi Prayitno menyebut bahwa aktor-aktor yang mengangkat isu ini adalah kelompok yang sejak awal kritis terhadap Jokowi.
“Mereka ingin mendowngrade citra Jokowi, agar terlihat bahwa dia bukan pemimpin ideal seperti yang selama ini dipercaya publik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa serangan ini tak hanya soal ijazah. “Soal SMK, proyek infrastruktur, dan lainnya juga kerap disorot.
Ini upaya mendeligitimasi Jokowi, meski faktanya ia telah menjabat dua periode sebagai presiden melalui proses demokrasi yang sah.”
Presiden Jokowi sempat menunjukkan ijazahnya kepada sejumlah wartawan, dengan catatan tidak boleh direkam atau difoto.
Hal ini menuai berbagai spekulasi lanjutan. Beberapa pihak menganggap langkah ini justru memperpanjang polemik.
“Jika ingin menyelesaikan secara tuntas, jalur hukum adalah satu-satunya cara,” kata Adi.
Meski demikian, Adi mengingatkan bahwa Pilpres telah usai dan posisi Jokowi sebagai presiden sudah final dalam sejarah politik Indonesia.
“Mengejar keabsahan ijazah saat ini tak akan mengubah apapun secara hukum dan politik,” tegasnya.
Ia berharap jika spekulasi ini ingin dihentikan, maka pengadilan adalah jalan yang sah dan pasti. Baik Jokowi maupun pihak yang menuduh memiliki hak dan kewajiban untuk membuktikan argumen masing-masing secara adil dan terbuka.**
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












