Ukurannya, kata dia, ada pada pendidikan, kesehatan, kebersihan, toleransi, dan ruang kreasi warga.
Kedua, soal cara pandang terhadap budaya. Christian meminta warga mengubah mindset dari sekadar warisan menjadi pinjaman.
Budaya itu bukan hanya warisan dari leluhur kita, tapi pinjaman dari anak cucu kita. Kalau kita berpikir ini hanya warisan, kita suka-suka pakainya. Tapi kalau ini pinjaman, kita wajib menjaganya baik-baik karena suatu hari mereka akan memintanya kembali,” ujarnya.
Ia menilai Oeba adalah miniatur Kupang, di mana semua agama, etnis, dan suku hidup berdampingan. Keberagaman itu harus jadi kekuatan.
Keberagaman di Kota Kupang bukan jadi penghalang, tetapi jadi kekuatan. Bukan menjadi jarak pemisah, melainkan jembatan. Harmoni itu bukan berarti harus sama atau seragam, tapi kita bisa menjaga keseimbangan,” katanya.
Ketua Panitia, David C. Octovianus, mengatakan festival ini tidak hanya untuk pelestarian, tapi juga pemberdayaan. Selain pentas seni, panitia menghadirkan pasar UMKM untuk menggerakkan ekonomi warga serta pelayanan PBB-P2 dan cek kesehatan gratis.
Panitia menyampaikan terima kasih kepada Pemkot Kupang, para donatur, dan warga Oeba yang telah bergotong royong menyukseskan festival tahun kedua ini.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












