Daerah  

Senja yang Memeluk Laut: Ketika Nun Baun Sabu Mengajarkan Cara Melepaskan Penat

Avatar photo
Reporter : Ivan Wuran
IMG 20260910 WA0057
Ancu Mo, Konsultan Pajak, duduk di kanan bersama Okto Dominggus, sahabatnya. dok. kabartimor.com

Tak ada rapat. Tak ada angka-angka. Tak ada berkas yang harus diperiksa. Tak ada tuntutan pekerjaan yang mengejar waktu.
Hanya dirinya. Senja. Dan lautan.

“Kadang kita ini terlalu sibuk mengejar banyak hal, sampai lupa berhenti sebentar. Duduk di sini, lihat laut, minum kopi, menikmati senja… rasanya semua penat perlahan hilang,” ujar Ancu Mo kepada kabartimor.com, Rabu (9/9/2026).

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Sambil memandang ke arah cakrawala, asap rokok perlahan terbang, bercampur dengan angin pantai. Kopi hangat mengepul.
Sementara matahari semakin rendah.

Baca Juga :  Pantau RSUD Ende dan TC Hillers Pascagempa, Melki Pastikan Layanan Kesehatan Tetap Jalan dan Perbaikan Total

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya sore biasa. Namun bagi mereka yang memahami arti lelah, senja adalah ruang paling jujur untuk berbicara dengan diri sendiri.
Tidak perlu banyak kata. Laut sudah mengerti.

*Nun Baun dan Percakapan yang Tak Pernah Usai*

Sore semakin ramai.
Suara tawa bersahutan.
Orang-orang bercengkrama sambil memandang laut yang seakan tak memiliki ujung. Ada cerita tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang masa lalu. Tentang mimpi-mimpi yang belum sempat diwujudkan.

Baca Juga :  Lowongan Kerja Sesuai Tamatan di PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap)

Di Pantai Nun Baun, percakapan terasa berbeda.
Mungkin karena laut menjadi pendengar terbaik.
Ia tidak menyela.
Tidak menghakimi.
Tidak meminta penjelasan.

Ia hanya menerima semua cerita, lalu mengirimkannya kembali dalam bentuk ombak yang menyentuh pantai. Begitu berulang. Seperti kehidupan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung