Dengan target 20 tenaga kerja per desa, total 2.260 lapangan kerja langsung tercipta, memperpendek rantai distribusi, dan menghindarkan warga dari pinjaman online dan rentenir.
Vinsensius Adrian Gouda Wogo SH. MHum, Ketua KMP Kelurahan Danga mengatakan sejarah koperasi di Indonesia bukan baru. Bung Hatta menyebut koperasi sebagai “alat perjuangan ekonomi rakyat.”
Namun, semangat itu sempat redup oleh dominasi pasar bebas. Kini, Nagekeo menghidupkan kembali semangat tersebut.
“Kami lihat koperasi sebagai instrumen kemandirian,” kata Vinsensius menegaskan bahwa pembiayaan pembangunan desa tidak harus bergantung pada APBN/APBD, tetapi bisa melalui koperasi.
Lurah Danga, Johanes Lado, menyebut koperasi sebagai “Gerakan orang miskin menolong orang miskin.”
Menurutnya, koperasi punya peran strategis seperti Menyediakan sembako murah, Memperkuat UMKM, Menyalurkan produk lokal ke pasar luas
“Petani adalah real investor ketahanan pangan. Sudah saatnya koperasi menjadi pelindung mereka,” tegasnya.
Di Desa Utetoto, Kecamatan Nangaroro, Kepala Desa Ignasius Dita mempersiapkan koperasi sebagai offtaker utama hasil pertanian warga.
Tak hanya itu, koperasi juga menjadi solusi menghindari jerat pinjaman online yang melumpuhkan banyak generasi muda.
“Dengan koperasi, kita beri akses modal yang adil dan berbasis solidaritas,” tutupnya.
Reporter : HN/Nagekeo
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












