KR – Nama Thomas Krispianus Swalar tak asing lagi di SMA Negeri 1 Nagawutun. Bagi kalangan masyarakat maupun siswa, ia bukan sekadar guru, tetapi sahabat yang selalu hadir dengan senyum penuh ketulusan.
Di balik senyumnya, tersimpan api kecil yang terus menyala, “cinta pada literasi” Ia percaya, membaca dan menulis bukan hanya kegiatan akademik, tetapi jalan menuju kebebasan berpikir, jalan menuju masa depan yang lebih terang.
“Dari kata lahir keberanian, dan dari keberanian lahir perubahan,” sering ia ucapkan kepada murid-muridnya.
Tanggal 17 Agustus 2025 menjadi saksi. Di tengah gegap gempita perayaan 80 tahun Indonesia merdeka, di Kecamatan Nagawutun, sebuah suara mengalun syahdu. Suara itu milik Thomas Swalar.
Dengan penuh penghayatan, ia membacakan puisi “Aku Melihat Indonesia” karya Bung Karno, sebuah karya monumental yang lahir dari jiwa besar proklamator bangsa.
Sedangan “Puisi Nyanyian Negeri Paus Karya Thomas Krispianus Swalar yang dibawakan oleh Ibu Rofina Hobamatan seorang Bidan di Puskesmas Loang
Setiap baitnya menggema di udara, menyatukan semangat kemerdekaan dengan napas sastra. Hadirin terdiam, lalu bertepuk tangan dalam hati dengan penuh haru.
Hari itu menjadi lebih istimewa ketika Camat Nagawutun juga, Mustan Boli, S.Sos., M.Si., menerima sebuah hadiah berharga.
Thomas menyerahkan buku berjudul “Buku Swara-Swara Anak Pulau”, Karya Para Penulis se-Indonesia.
Buku tersebut diterima sebagai koleksi resmi Pemerintah Kecamatan Nagawutun.
“Kami berterima kasih atas sumbangan literasi ini. Buku ini akan menjadi warisan penting bagi generasi berikutnya,” ujar Camat Mustan dengan nada penuh penghargaan.
Bagi Thomas, penyerahan buku itu adalah bentuk sederhana dari cinta tanah air. “Semoga buku ini menjadi cahaya kecil yang terus menyala di hati anak-anak pulau,” katanya, dengan mata berkaca-kaca.
Puisi bukan sekadar rangkaian kata, bagi Thomas ia adalah nafas bangsa. Ia yakin, sebagaimana dalam nadi Bung Karno “Aku Melihat Indonesia,” puisi adalah jendela masa depan.
Melalui puisinya, “Nyanyian Negeri Paus,” Thomas bercerita tentang laut luas NTT, tentang paus yang menjadi simbol kekuatan, dan tentang anak-anak yang tumbuh di pulau kecil dengan mimpi besar.
“Puisi adalah cara saya berbicara tentang tanah kelahiran, tentang kebanggaan, dan tentang harapan,” ungkapnya.
Bagi Thomas, literasi adalah kunci pembebasan. Di kelas, ia tak henti mendorong murid-muridnya membaca buku, menulis artikel sederhana, hingga berani tampil membaca puisi.
Ia percaya, anak yang terbiasa membaca dan menulis akan tumbuh menjadi pribadi yang kritis, kreatif, dan berani bersaing dengan dunia luar.
“Kalau anak-anak terbiasa membaca dan menulis, maka mereka punya daya saing. Dunia ini luas, dan literasi adalah tiket untuk bisa menjelajahinya,” tegas Thomas.
Nagawutun, Ia juga membentuk komunitas literasi kecil di desa, tempat anak-anak bisa membaca, menulis, dan berdiskusi.
“Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” begitu prinsip hidupnya.
Buku Swara-Swara Anak Pulau adalah bukti nyata. Buku itu lahir dari tangan para penulis muda NTT, cermin kegelisahan, harapan, dan cinta mereka pada tanah air.
Ketika banyak orang membicarakan pembangunan infrastruktur, Thomas bicara tentang pembangunan jiwa. Ketika sebagian sibuk mengejar angka, ia sibuk menyalakan api literasi.
Senyumnya adalah energi, puisinya adalah suara hati, karyanya adalah warisan. Pada usia ke-80 Indonesia merdeka, ia mengingatkan bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai sastra, literasi, dan pendidikan.
“Selama ada kata, akan selalu ada harapan,” tutupnya dengan penuh keyakinan.
Reporter: Dangke












