KR – Pekan Suci diawali dengan peristiwa yang menggugah hati. Pada Minggu Palma, 14 April 2025, sebuah perayaan yang menghadirkan kontras tajam antara sukacita dan pengkhianatan.
Di awal perayaan, umat Katolik mengenang Yesus disambut dengan sorak sorai:
“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” Namun tak lama kemudian, teriakan berubah drastis menjadi “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”
sebuah ironi yang terus menggema dalam sejarah iman Kristiani.
Apa makna dari perubahan mendadak ini? Apakah ini bagian dari rencana Tuhan? Tidak. Ini bukan karya Tuhan, karena dalam kejahatan tidak ada kasih Ilahi.
Perubahan itu mencerminkan rapuhnya hati manusia mudah terpengaruh, cepat berubah arah, dan cenderung mengikuti arus keramaian daripada kebenaran.
Yesus yang sebelumnya dielu-elukan karena mukjizat-Nya, tiba-tiba dianggap sebagai ancaman.
Di balik semua itu, pengaruh tokoh-tokoh Farisi dan ahli Taurat membentuk opini masyarakat yang labil dari pujian menjadi penghakiman.
Namun, tidak semua berubah arah. Dalam Injil, kita melihat sosok Maria dan Yohanes yang tetap setia.
Mereka menjadi simbol harapan bahwa di tengah kerapuhan umat, masih ada kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Pekan Suci menjadi momen emas untuk kembali pada identitas sejati kita sebagai murid Kristus — bukan sekadar pengikut tren, tetapi saksi iman sejati.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












