Refleksi 73 Tahun KPU: Dari Verifikasi Faktual di Kupang Menuju Kepastian Hukum di MK

Reporter : Ivan Wuran
foto press media online
Sandiang Kaya Ndapa Namung menegaskan pentingnya transparansi verifikasi syarat calon dalam diskusi publik "Syarat Ijazah SMA dalam Timbangan Hukum, Politik, dan Demokrasi" yang digelar Pusat Studi dan Kreativitas Mahasiswa Astria Initia di Dapo San17, Penfui Timur, Kupang, Jumat malam 9 Oktober 2026. (Foto: Dok. Astria Initia/kabartimor.com)

Lalu, bagaimana fondasi itu dijalankan?

Dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi, Hakim MK Saldi Isra menanyakan kepada Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin apakah KPU mendatangi dinas pendidikan untuk verifikasi faktual. Ketua KPU RI menjelaskan KPU tidak mendatangi dinas pendidikan, karena telah menerima surat keterangan resmi dan surat penyetaraan dari instansi berwenang. Penjelasan ini benar secara administratif dan prosedural.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Namun di titik inilah praktik baik dari Kupang memberi pelajaran berharga.

Baca Juga :  Kludolfus Tuames: Ranperda DAS Kunci Cegah Bencana Ekologis NTT

Prinsip yang dipegang KPU di Nusa Tenggara Timur, sebagaimana disampaikan di berbagai kesempatan oleh Ketua KPU NTT Jemris Fointuna, adalah KPU melakukan penelitian dan verifikasi terhadap keabsahan dokumen calon, termasuk ijazah. Jika ada keraguan atau masukan masyarakat, KPU bersama instansi terkait dapat melakukan klarifikasi atau verifikasi faktual langsung ke sekolah atau lembaga penerbit.

Semangat sama ditegaskan dalam KoPi Parmas KPU NTT pada 8 Oktober 2026: verifikasi partai bukan sekadar administrasi, melainkan ujian integritas.

Baca Juga :  Sejumlah Perusahaan Buka Lowongan Kerja di Oktober 2024, Ini Posisi yang Dibutuhkan!

Kedua prinsip ini sejalan dan saling menguatkan. Verifikasi administratif yang dijalankan KPU RI adalah fondasinya, sementara verifikasi faktual yang menjadi budaya di NTT adalah praktik baik untuk memperkuat fondasi ketika muncul keraguan publik. Jika untuk calon DPRD di NTT saja verifikasi harus terbuka hingga ke sekolah, maka untuk calon Wakil Presiden, semangat kehati-hatian itu seharusnya lebih tinggi, bukan lebih longgar.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung