Daerah  

Puncak Musim Hujan, Waspada Cuaca Ekstrem di NTT

Avatar photo
IMG 20260128 WA0018

KR – Memasuki puncak musim hujan, masyarakat di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) diimbau untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada terjadinya bencana hidrometeorologi.

Berdasarkan analisis cuaca, terdapat sejumlah fenomena atmosfer yang berpotensi memicu cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga sangat lebat, petir/kilat, angin kencang, hingga puting beliung. Kondisi ini telah terjadi sejak pertengahan Januari 2026 dan diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Februari 2026.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Fenomena Atmosfer Penyebab Cuaca Ekstrem di NTT

1. Aktifnya Monsun Asia

Aktivitas Monsun Asia ditandai dengan peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut Cina Selatan. Massa udara dari Asia bergerak ke selatan dan memasuki wilayah Indonesia, terpantau di Laut Cina Selatan dan Selat Karimata.

Kondisi ini membentuk pola awan memanjang akibat konvergensi antar tropis (Intertropical Convergence Zone/ITCZ) yang membentang dari Samudera Hindia barat Bengkulu, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur hingga Laut Arafura.

Baca Juga :  Lowongan Kerja Sesuai Tamatan di PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap)

2. Pusat Tekanan Rendah di Selatan NTT

Terpantau adanya potensi pusat tekanan rendah di wilayah selatan NTT yang dapat berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis hingga Siklon Tropis.

Fenomena ini menyebabkan pertemuan, perlambatan, dan belokan angin, yang berdampak pada peningkatan curah hujan disertai kilat/petir dan angin kencang, sehingga meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

3. Gelombang Atmosfer Tropis Aktif

Beberapa gelombang atmosfer tropis seperti Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby, dan Gelombang Kelvin terpantau aktif atau berada pada fase yang mendukung pembentukan awan hujan.

Gelombang ini memicu konvergensi udara di lapisan bawah atmosfer, sehingga mendorong naiknya udara lembap dan memperkuat proses pembentukan awan hujan.

4. Indeks IOD Negatif dan La Niña Lemah

BMKG memantau kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) bernilai negatif serta La Niña lemah. Kedua fenomena ini berkontribusi pada meningkatnya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia.

Meski tergolong lemah, La Niña tetap memberikan dampak signifikan saat puncak musim hujan, terutama berupa peningkatan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, khususnya NTT.

Baca Juga :  Polsek Malaka Barat Kawal Distribusi Logistik Pemilu 2024 Dari PPK Menuju PPS

5. Kelembapan Udara Tinggi

Berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, kelembapan udara di lapisan atmosfer 700 mb dan 500 mb terpantau cukup basah.

Kondisi ini didukung oleh suhu muka laut yang hangat di sekitar wilayah NTT, sehingga meningkatkan suplai uap air dan mendukung pertumbuhan awan hujan yang masif.

Masyarakat NTT diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang, khususnya di wilayah rawan bencana.

Menghindari aktivitas di sekitar sungai, lereng curam, dan daerah rawan longsor saat hujan lebat.

Mengamankan benda-benda di sekitar rumah yang mudah terbawa angin atau aliran air.

Selalu memantau informasi cuaca terkini dan mengikuti imbauan resmi dari BMKG dan BPBD setempat.

BMKG mengingatkan kondisi cuaca yang bersifat dinamis dan cepat berubah, masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG: Website: www.bmkg.go.id

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung