Seolah-olah tanah sedang berkata:
_”Aku tidak pernah mati. Aku hanya sedang menunggu hujan.”_
*TANAH YANG LAHIR DARI API*
Ada sesuatu yang luar biasa dalam hubungan Flores dengan gunung api.
Gunung api bisa menjadi ancaman. Ia bisa mengeluarkan abu, lava, awan panas dan material vulkanik. Tetapi dalam perjalanan geologi yang jauh lebih panjang, material tersebut mengalami pelapukan dan menjadi bagian dari pembentukan tanah.
Di situlah paradoks besar itu muncul. Api yang menghancurkan hari ini dapat menjadi bagian dari kesuburan di masa depan.
Batuan vulkanik yang dahulu keluar dari perut bumi perlahan dihancurkan oleh hujan, panas, angin dan proses biologis. Mineralnya dilepaskan. Bercampur dengan bahan organik. Menjadi tanah. Kemudian manusia datang membawa benih. Dan kehidupan dimulai kembali.
*TETAPI FLORES TIDAK PERNAH MEMINTA YANG MUDAH
Di banyak wilayah Nusa Tenggara, persoalan bukan hanya bagaimana mendapatkan tanah yang subur. Persoalannya adalah bagaimana mempertahankan air. Bagaimana menjaga tanah dari erosi. Bagaimana membuat tanaman bertahan melewati musim kering.
Bagaimana satu keluarga dapat bertahan ketika hujan datang tidak menentu.
Di sinilah ilmu pengetahuan bertemu dengan pengalaman manusia. Masyarakat telah lama mengembangkan cara-cara beradaptasi dengan lingkungan yang kering dan berbukit. Mereka membaca musim. Mengenali tanah. Menyimpan benih. Menjaga mata air. Dan menanam dengan perhitungan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
