“Kita religius, tapi tidak bermoral. Kita adat, tapi lupa nilai,” kata seorang pastor dalam homili Paskah di Kupang.
Agama dan adat seolah tidak lagi cukup untuk menahan gelombang kekerasan seksual yang kian masif dan brutal.
Saatnya Bicara: Diam Adalah Kekerasan Baru
Budaya tabu membicarakan seksualitas harus dihentikan.
Kita tidak bisa lagi menutupi kekerasan dengan alasan “malu” atau “aib keluarga”.
Langkah yang perlu diambil:
1. Edukasi seks yang benar, bukan tabu
2. Sistem pelaporan yang mudah dan aman
3. Penegakan hukum yang adil tanpa pandang nama baik
4. Dukungan nyata bagi korban
5. Pendidikan sejak dini untuk anak tentang hak tubuh dan keberanian berkata “tidak”
Penutup: Luka Ini Tidak Akan Sembuh dengan Doa Saja
Paradoks religiusitas dan kriminalitas di NTT harus diurai. Karena luka yang tidak diobati akan diwariskan.
Dan jika kekerasan diwariskan, ia akan menjadi budaya.
Keberanian untuk melihat, bicara, dan bertindak adalah obat pertama dari luka ini.
Karena jika tidak sekarang, generasi yang akan datang akan mewarisi kegelapan yang lebih dalam.**
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
