Kabartimor.com-Pemuda hari ini tidak lagi berjuang angkat senjata atau melakukan demonstrasi politik dalam sebuah aktivitas pengabdian dan kepedulian pada bangsa negara. Pemuda hari ini adalah generasi Z dan generasi Milenial yang menikmati hasil kemerdekaan Indonesia tanpa keringat setetespun.
Pasca Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 yang dipelopori banyak pejuang muda, gejolak pemuda juga bangkit ketika dibentuknya pemerintahan kabinet parlementer pertama. Dimana dipimpin Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri dan Amir Sjarifuddin sebagai Wakil Perdana Menteri yang lahir generasi muda belia di pemerintahan nasional.
Selanjutnya paska Pemilu 1955 banyak generasi muda politik Indonesia tampil dalam Legeslatif dan Eksekutif dari berbagai kalangan dan partai politik. Sehingga lewat generasi muda tersebut, estafet regenerasi politik terus berdealektika secara historis dan materiil.
Kemudian bergeser pada bangkitnya orde baru Soeharto dan selesainya orde lama di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno. Bahkan gejolak pemuda terus dirasakan sejak angkatan 1966, 1975, 1988, 1992, 1996 dan sampai dengan 1998 tumbangnya Presiden Soeharto.
Maka saat itu munculah generasi muda jaman reformasi politik 1998 yang melahirkan demokrasi multi partai, kebebasan pers, kebebasan beragama dan berkeyakinan, kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum dan kebebasan berpolitik secara utuh dan independen.
Setelah 24 Tahun Reformasi 1998, kita bisa lihat sudah banyak sekali pemuda tampil di kepemimpinan nasional. Baik Bupati, Walikota, Gubernur dan Presiden, serta DPRD Kabupaten/Kota, DPR Propinsi dan DPR RI. Lain lagi di bidang ekonomi, hukum, sosial dan agama.
Untuk itu generasi dan pemuda hari ini sangat perlu melakukan Hermeneutika Politik Pancasila atau tafsir terhadap Pancasila dan UUD 1945 kemanakah tujuan bangsa kedepan. Terutama saat menuju Visi Indonesia Emas 2045, tepat di 100 Tahun Indonesia Merdeka. Akankah merdeka sebenar-benarnya merdeka seperti yang diharapkan funding father bangsa Indonesia.
Hermeneutika, salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Nama hermeneutika diambil dari kata kerja dalam bahasa Yunani hermeneuein yang berarti, menafsirkan, memberi pemahaman, atau menerjemahkan.
Generasi muda hari ini adalah Hermeneutika Perlawanan Atas Penindasan, Kemiskinan, Korupsi, Abuse of Power/Kesewenangan, Budaya Patriarki, Hegemoni Kekuasaan dan Oligarki Politik. Terutama adalah Melawan Radikalisme Politik yang merongrong Ideologi Pancasila dan kedaulatan NKRI, dengan membangun toleransi dan kemajemukan, merawat kebhinekaan dan mencerahkan peradaban yang berkemajuan.
Generasi muda hari ini harus menjadi Intelektual Organik yang akan menafsirkan keadaan ini, dengan menjawab problematika realitas masyarakat. Baik secara struktur maupun supra struktur sosial, budaya, ekonomi, politik dan hukum.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
