Studi Darmawan & Suyanto (2021) dari Jurnal Sosioteknologi ITB menunjukkan banyak wilayah menggunakan data lama, menyebabkan bantuan salah sasaran. Keluarga yang sebenarnya mampu tetap menerima bantuan, sementara yang benar-benar membutuhkan justru terabaikan.
Meski begitu, PKH tidak sepenuhnya gagal. Program ini terbukti menekan angka putus sekolah dan meningkatkan kepatuhan ibu hamil terhadap jadwal pemeriksaan kehamilan. Tapi jika tujuannya adalah mengentaskan kemiskinan secara berkelanjutan, maka PKH belum sepenuhnya sampai ke tujuan.
Ekonom pemenang Nobel, Amartya Sen, pernah menyebut bahwa kemiskinan bukan semata kekurangan uang, tapi kekurangan kebebasan untuk menjalani kehidupan yang bernilai. Dalam konteks ini, bantuan tunai hanyalah pijakan awal. Tanpa intervensi pemberdayaan ekonomi yang serius, warga miskin hanya akan berpindah dari satu ketergantungan ke ketergantungan berikutnya.
Lalu apa yang bisa diperbaiki? Pertama, pembaruan data penerima bantuan harus dilakukan secara rutin dan berbasis NIK agar tepat sasaran.
Kedua, rasio pendamping dan keluarga perlu dipangkas agar interaksi mereka lebih bermakna. Ketiga, program pemberdayaan ekonomi lokal—seperti pelatihan UMKM, koperasi wanita, atau proyek padat karya—harus berjalan berdampingan dengan PKH.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
