Maka ia bangun gazebo. Satu, lalu tiga. Lalu ia beri nama: Tanjung Kolisia. Karena di sanalah tanjung bertemu teluk. Karena di sanalah alam menumpahkan semua yang ia punya.
Dan ketika ia kembali ke Kupang, ia tidak pulang sendiri. Ia membawa nama itu bersamanya. Ia tancapkan nama Kolisia di tengah Kota Kupang.
“Kalau bukan katong-katong ini, siapa lagi yang mau promosikan?” ucapnya.
Itulah surat cintanya. Tidak ditulis dengan tinta, tapi dengan bambu.
Di Kupang, ia sengaja tidak membangun tembok. Semua dari bambu. Gazebo, kursi, meja, bahkan dinding yang tidak ada dindingnya. “Kita di NTT ini kaya bambu. Kenapa harus malu menunjukkan kearifan lokal kita sendiri?” katanya.
Di meja-meja bambu itu, ia tidak menyajikan gengsi. Ia menyajikan ingatan. Jagung bose yang pulen, ikan lawar yang pedas, kuah asam yang segar, dan yang paling ia banggakan: Tuna Bakar.
“Nasi ikan tuna bakar Rp30.000,” katanya, hampir seperti berbisik. “Di sini, dengan Rp30 ribu, katong bisa makan tuna. Ikan yang di Jepang harganya bisa miliaran. Tuhan sudah kasih katong rezeki begitu murah di NTT, rugi kalau katong tidak makan.”
Di luar, ekonomi Kupang sedang tidak baik-baik saja. Ia tahu itu. Orang-orang memilih makan di rumah. Dompet menipis. Omset cafe naik turun seperti ombak di Tanjung Kolisia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
