KUPANG, kabartimor.com – Di tengah keramaian Car Free Day, Sabtu pagi, belasan anak duduk menekuk lutut di atas tikar. Di depan seorang anak berbaju kuning, kertas gambar mobil balap nomor 53 dan bunga mawar menunggu diberi warna.
“Yang rapi ya, jangan keluar garis,” kata seorang perempuan sambil mengawasi. Itu Mama Vallo, pemilik lapak mewarnai Rp 20 ribu.
Tidak ada meja, tidak ada tenda mewah. Hanya tikar, kursi plastik kecil, kotak cat air, dan tumpukan kertas gambar. Sejak Januari 2024, lapak ini buka tiap Sabtu pagi di CFD Kupang.
“Anak-anak sekarang banyak main HP. Saya mau mereka punya tempat mewarnai, melatih sabar,” kata Mama Vallo kepada kabartimor.com, Sabtu (03/01/2026) di lokasi.
Satu gambar Rp 20 ribu. Sehari 15 sampai 25 anak datang. Uang Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu itu besoknya kembali jadi cat air dan kertas.
Mama Vallo sendiri tidak punya buku kas.
“Uang jualan dan uang belanja saya taruh di satu dompet. Catat di kepala saja,” ujarnya.
Cara inilah yang dialami ribuan usaha paling kecil di Kupang. Usaha jalan, tapi tidak tahu untung berapa. Saat butuh modal cat tambahan, bingung pinjam ke mana. Di saat itu, tawaran pinjaman online masuk ke HP.
“Saya sering dapat tawaran pinjol. Saya takut, saya hapus,” kata Mama Vallo.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
