Indeks

Lapak Rp 20 Ribu di CFD Kupang dan PR Literasi 15 Tahun OJK

Reporter : Ivan Wuran
IMG 20261021 073701
Potret UMKM ultra mikro di CFD Kupang: lapak mewarnai Rp 20 ribu milik Mama Vallo yang menghadapi tantangan literasi keuangan, belum memisahkan keuangan usaha-pribadi dan rentan tawaran pinjol ilegal. Potret ini relevan dengan 15 tahun OJK (22 November 2011) dalam mendorong literasi dan inklusi keuangan melalui TPAKD di NTT, khususnya program Kredit Melawan Rentenir (KPMR) dan Laku Pandai agar sampai ke pelaku usaha paling kecil.(Foto.Dok.kabartimor)

2. Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir (KPMR):

Inilah yang paling relevan dengan Mama Vallo. Program penyediaan pembiayaan yang mudah dan berbiaya rendah untuk melindungi masyarakat serta pelaku usaha kecil dari jeratan rentenir.

3. Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR): Mendorong budaya menabung sejak dini bagi pelajar melalui kepemilikan rekening tabungan.

4. Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif): Perluasan akses layanan perbankan melalui agen keuangan di berbagai desa dan wilayah terpencil.

5. Kredit/Pembiayaan Sektor Prioritas (KPSP): Pembiayaan tematik yang disesuaikan dengan komoditas unggulan daerah masing-masing seperti klaster pertanian, perikanan, atau perkebunan.

Secara nasional, PR literasi itu tercermin dari data pembiayaan. Laporan OJK Semester I 2026 mencatat total pembiayaan UMKM hingga Juli 2026 mencapai Rp 1.949 triliun, tumbuh 3,09 persen. Namun, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat literasi keuangan nasional baru 65,43 persen.

Artinya, pembiayaan besar sudah ada, tapi masih banyak pelaku usaha seperti Mama Vallo yang belum tersentuh KPMR karena takut dan tidak tahu cara pisah dompet.

“Kalau ada pendampingan cara catat keuangan, saya mau ikut. Biar usaha ini bisa tetap hidup,” kata Mama Vallo.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung

Exit mobile version