“Sebagai generasi muda, tentu kami tidak menolak pembangunan. Tetapi kami menolak pembangunan yang mengancam rakyat dan membuat alam rusak. Pembangunan harus memberikan manfaat tanpa mengorbankan lingkungan dan generasi yang akan datang,” ujarnya.
_Desak Pembangunan Berkelanjutan_
Menurut Sandiang, hutan, laut, tanah, dan mata air tidak bisa dipandang semata sebagai komoditas ekonomi. Bagi masyarakat di akar rumput, sumber daya alam adalah pondasi kehidupan.
Ia menekankan, masyarakat yang hidup di sekitar hutan, pesisir, dan lingkar tambang harus dilibatkan secara bermakna dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut ruang hidup mereka.
“Jangan sampai atas nama pembangunan, masyarakat kehilangan ruang hidupnya. Jangan sampai hari ini kita mengejar keuntungan, tetapi anak cucu kita justru menerima kerusakan,” katanya.
Sandiang juga mengajak generasi muda di NTT untuk tidak menjadi penonton. Ia mendorong anak muda terlibat aktif dalam edukasi lingkungan, advokasi, pengawasan kebijakan, dan menyampaikan kritik konstruktif terhadap kebijakan yang berpotensi merugikan masyarakat.
“Kami tidak ingin mewariskan kerusakan kepada anak cucu. Kami ingin mereka tetap memiliki hutan, laut, tanah, dan mata air yang menopang kehidupan. Jangan sampai yang kita wariskan bukan mata air, tetapi air mata,” pungkasnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
