FEATURE | KABARTIMOR.COM
Ada tempat di Indonesia yang tanahnya begitu indah, tetapi menyimpan cerita tentang kehilangan yang begitu dalam. Namanya Flores.
Di sana, laut membiru seperti doa yang tak bertepi. Bukit-bukit berdiri seperti penjaga. Kebun-kebun menghijau ketika musim hujan datang. Rumah-rumah kecil berdiri di antara pepohonan, tempat ibu-ibu menanak nasi dan anak-anak berlari mengejar matahari.
Tetapi pada suatu pagi, tanah itu berguncang.
Bukan sekali. Bukan dua kali. Ia mengguncang rumah, gereja, sekolah, jalan, ladang, dan terutama hati manusia.
Ketika Tanah Kehilangan Kesabaran
Pada 15 Agustus 2026, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores.
Dalam hitungan detik, tempat yang selama bertahun-tahun disebut rumah berubah menjadi tempat yang menakutkan untuk ditinggali.
Orang-orang berlari keluar dengan pakaian seadanya.
Ada ibu yang menggandeng anaknya.
Ada ayah yang kembali masuk ke rumah untuk mengambil ibunya yang sudah tua.
Ada anak kecil yang menangis karena belum mengerti mengapa bumi tiba-tiba seperti kehilangan kesabaran.
Dan ada mereka yang tidak pernah sempat berlari. Mereka tinggal sebagai nama dalam daftar orang yang telah pergi.
Data kemudian mencatat angka yang terasa begitu dingin dibandingkan air mata manusia: korban meninggal mencapai 111 orang, sementara 88.161 warga masih mengungsi hingga 31 Agustus 2026.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
