Indeks

Messi: Dari Bocah Ajaib Menjadi Legenda, Kisah Panjang Tentang Air Mata, Kehilangan, dan Sebuah Mimpi yang Tak Pernah Mati

Reporter : Ivan Wuran
IMG 20260904 161826
Lionel Messi saat membawa Argentina juara piala dunia 2022 di Qatar. dok. Istimewa

Ketika Mimpi Berkali-kali Patah

Piala Dunia 2014 di Brasil menjadi salah satu bab paling menyakitkan. Messi membawa Argentina sampai ke final. Satu pertandingan lagi. Satu langkah lagi. Satu kemenangan lagi.

Tetapi di Stadion Maracana, mimpi itu runtuh.  Argentina kalah 0-1 dari Jerman melalui gol Mario Gotze pada perpanjangan waktu.

Messi berdiri di tengah lapangan dengan wajah yang sulit diterjemahkan. Ia mendapat Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen. Tetapi penghargaan itu tidak mampu menggantikan satu hal yang paling diinginkannya: Piala Dunia.

Lalu datang luka yang lain.  

Copa America 2015. Final melawan Chile. Argentina kalah melalui adu penalti. Setahun kemudian, Copa America Centenario 2016 kembali mempertemukan Argentina dan Chile di final. Dan sekali lagi, Argentina kalah.

Kesedihan itu terlalu dalam.  

Pada 2016, Messi bahkan sempat menyatakan pensiun dari tim nasional. Seolah mimpi yang diperjuangkannya bertahun-tahun telah berubah menjadi beban.

Tetapi cinta kepada Argentina ternyata lebih kuat daripada rasa kecewa.

Ia kembali. Dan dari situlah kisah besar itu benar-benar berubah.

2021 — Air Mata yang Akhirnya Berubah Menjadi Senyum

Maracana kembali menjadi saksi. Namun kali ini, ceritanya berbeda.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung

Exit mobile version