Menurutnya, Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan panggilan abadi bagi setiap generasi bangsa Indonesia untuk memperbarui komitmen terhadap persatuan dan jati diri kebangsaan.
“Sumpah Pemuda merupakan panggilan abadi bagi setiap generasi untuk memperbarui komitmen eksistensial: bahwa dalam segala perbedaan, kita tetap Indonesia,” ujar Kristina Dudeng penuh semangat.
Ia menambahkan, di tengah arus humanitas digital yang begitu cepat, semangat persatuan dan cinta terhadap Bahasa Indonesia harus terus dijaga dan diperkuat di kalangan peserta didik.
“Bahasa Indonesia adalah identitas dan perekat bangsa. Di era digital, kita harus memastikan bahasa ini tidak sekadar dipakai, tapi dijaga kemurnian dan maknanya,” lanjutnya.
Sementara rangkaian kegiatan yang berlangsung selama sepekan diisi berbagai lomba menarik dan edukatif, antara lain:
1. Lomba Menulis Puisi – Mengasah kepekaan sastra dan kemampuan ekspresi estetis.
2. Lomba Menyanyi Solo – Menempatkan lagu sebagai karya seni bernilai dan ekspresif.
3. Lomba Pidato Bahasa Indonesia Bertema Budaya Lembata – Menanamkan semangat berbahasa global tanpa melupakan identitas lokal.
4. Lomba Meresensi Buku – Melatih daya kritis dan intelektual peserta didik terhadap karya sastra.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
