Komunitas Manggarai, Alor, K2S, komunitas Jawa, dan berbagai kelompok lainnya tampil memukau melalui tarian adat, reog, kuda lumping, serta ragam ekspresi budaya lain yang menjadi kekayaan Kota Kupang.
“Saya sungguh terharu melihat betapa besar kecintaan masyarakat dan komunitas kepada Pemerintah Kota Kupang. Dalam waktu singkat mereka datang, hadir, dan menampilkan yang terbaik,” ujar Wali Kota.
Ia menegaskan bahwa Kota Kupang adalah rumah bersama bagi semua warga tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun budaya. Menurutnya, keberagaman yang dimiliki Kota Kupang bukanlah hambatan, melainkan kekuatan sosial yang harus terus dipelihara.
Wali Kota menjelaskan bahwa harmoni tidak berarti semua orang harus sama atau seragam, tetapi bagaimana perbedaan dapat hidup dalam keseimbangan.
Ia mengibaratkan harmoni seperti nada-nada dalam sebuah lagu yang berbeda-beda, namun ketika berada pada susunan yang tepat akan menghasilkan keindahan.
“Harmoni itu bukan sama atau seragam, tetapi seimbang. Kita lahir dengan keunikan masing-masing, namun ketika disatukan dalam proporsi yang tepat, maka terciptalah keharmonisan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Wali Kota menekankan bahwa pembauran tidak menghilangkan identitas diri. Setiap kelompok masyarakat tetap memiliki jati diri dan kebanggaan budayanya masing-masing, namun hidup berdampingan dengan semangat saling menghargai, menghormati, dan bekerja sama demi kemajuan bersama.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
