Namun sesungguhnya, membaca puisi adalah membaca kehidupan dalam bentuk paling padat dan estetik.
Puisi adalah olah rasa penyair yang dituangkan dalam pilihan kata yang telah disaring sedemikian rupa.
Dalam dunia sastra, puisi berbeda dengan prosa dan drama. Ia menuntut ketajaman diksi dan kekuatan imajinasi.
Maka tak heran bila pembaca yang tidak memiliki pengetahuan dasar tentang puisi akan merasa kesulitan menangkap makna di balik tiap bait yang ditulis.
Meski begitu, justru itulah kekuatan puisi, mampu menggetarkan hati dan membangkitkan kesadaran, tanpa harus menjelaskannya secara gamblang.
Antara Algoritma dan Sumpah Pemuda
Salah satu bait puisi Denny JA yang menyentuh saya berbunyi:
“Tapi, di antara getar algoritma dan sinyal digital,
Datang bisikan dari jauh, dari tahun 1928.”
Bait ini membawa pembaca melintasi lorong waktu, dari hiruk-pikuk digital masa kini menuju satu titik penting dalam sejarah bangsa: tahun 1928, tahun diikrarkannya Sumpah Pemuda.
Pada masa itu, bangsa Indonesia belum merdeka.
Namun dalam Kongres Pemuda II, para pemuda dari berbagai penjuru nusantara telah menyadari bahwa hanya persatuan yang mampu menjadi jalan menuju kemerdekaan.
Mereka dengan penuh semangat menyatukan keberagaman dalam satu tekad luhur: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
